Yuk mengenali Interaksi Sosial dalam Karya Sastra!
INTERAKSI
SOSIAL TOKOH PADA KUMPULAN CERPEN “KETIKA MAS GAGAH PERGI” KARYA HELVY TIANA
ROSA
Lila
Anggraini
Pendidikan Bahasa dan
Sastra Indonesia
Fakultas Keguruan dan
Ilmu Pendidikan
Universitas
Muhammadiyah Malang
lilasinsegi@yahoo.com
Abstrak
: Pada
penelitian ini, penulis menjelaskan tentang bagaimana faktor dan bentuk
interaksi sosial tokoh pada tokoh lain. Tokoh sangat baik dalam berinteraksi
sosial kepada sesama muslim dan saling bantu-membantu terhadap saudara seiman
tanpa memandang apapun dari ras, suku, maupun budaya. Banyaknya pesan moral
yang tersirat pada interaksi sosial tokoh membuat pembaca dapat mengambil sisi
positif dari salah satu tokoh bernama Gagah, dan sedikit demi sedikit
mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga pembaca lebih peka
terhadap lingkungan sekitar dan menjadi pribadi yang muslim yang mempunyai rasa
persaudaraan yang tinggi terhadap sesama muslim. Disandingkan dengan kondisi
kekinian saat ini, interaksi sosial baik itu sesama muslim ataupun bukan sesama
muslim, kritik sastra dalam kumpulan
cerpen Ketika Mas Gagah Pergi karya Helvy Tiana Rosa memiliki hubungan yang
erat, sehingga menarik untuk dikaji. Oleh karena itu, metode yang digunakan
pada penelitian ini adalah metode kualitatif dengan memilih pendekatan kritik
pragmatik. Sumber data dalam penelitian ini adalah kumpulan cerpen Ketika Mas
Gagah Pergi karya Helvy Tiana Rosa. Hasil penelitian menunjukan tentang
beberapa hal, (1) interaksi sosial pada pada bentuk kerja sama tokoh pada
kumpulan cerpen Ketika Mas Gagah Pergi karya Helvy Tiana Rosa berwujud kerja sama, tolong-menolong, (2) interaksi
sosial pada bentuk asimilasi tokoh pada kumpulan cerpen Ketika Mas Gagah Pergi
karya Helvy Tiana Rosa berwujud penyesuaian terhadap aturan, nilai-nilai,
norma, serta budaya, (3) interaksi sosial pada bentuk pertikaian tokoh pada
kumpulan cerpen Ketika Mas Gagah Pergi karya Helvy Tiana Rosa berwujud perlawanan, penolakan, bahkan kekerasan, (4) interaksi sosial pada faktor empati
tokoh pada kumpulan cerpen Ketika Mas Gagah Pergi karya Helvy Tiana Rosa
berwujud tolong-menolong, saling membantu baik materi ataupun moril, (5)
interaksi sosial pada faktor motivasi tokoh pada kumpulan cerpen Ketika Mas
Gagah Pergi karya Helvy Tiana Rosa berwujud dorongan semangat, mengarahkan
tokoh dalam berperilaku, (6) interaksi sosial pada faktor sugesti tokoh pada
kumpulan cerpen Ketika Mas Gagah Pergi karya Helvy Tiana Rosa berwujud nasehat,
arahan, dan sikap dapat menerima pendapat/ide orang lain,
Kata
kunci : interaksi sosial, empati, motivasi, sugesti,
kritik pragmatik
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Karya sastra merupakan
wujud hasil kreasi dari sastrawan melalui kontemplasi dan refleksi setelah
menyaksikan berbagai fenomena kehidupan dalam lingkungan sosialnya. (Al-Ma’ruf, 2009: 1).
Perkembangan novel amat melesat. Lahir beberapa penulis
dengan berbagai ciri khas penulis. Salah satunya adalah novel Ketika Mas Gagah Pergi karya Helvy
Tiana Rosa yang bergenre religi. Novel Ketika Mas Gagah Pergi adalah novel islami
yang berisi tentang pesan-pesan islam kehidupan. Utamanya nilai sosial dilihat dari proses interaksi
sosial terhadap sesama muslim.
Interaksi sosial
merupakan hal yang tidak dapat dilepaskan dalam kehidupan manusia. Dalam suatu
karya sastra, interaksi sosial tokoh dapat digambarkan melalui kata-kata yang
ditulis oleh pengarang. Pada karya sastra jelas sekali teori sosiologi ini
selalu ada. Tokoh akan berinterkasi dengan tokoh lain. Pengarang dengan bahasa
yang khas dan penuh estetika membangun gambaran interaksi sosial yang dilakukan
oleh tokoh di dalam karyanya, sehingga bayangan pembaca akan lebih jelas dan
nyata. Di antara banyaknya karya sastra,
kumpulan cerpen “Ketika Mas Gagah Pergi” karya Helvy Tiana Rosa menjadi
penggugah jiwa yang menggambarkan interaksi sosial tokoh terhadap tokoh lain
dalam bentuk berbeda. Yakni interaksi sosial dalam koridor islami yang kental.
Tidak hanya interaksi sosial dengan masyarakat, tapi interaksi secara spiritual
menjadi pendorong tokoh untuk tidak hanya hablumminannas namun juga
habluminallah atau tidak hanya membina hubungan dengan Allah Ta’ala, tetapi
juga hubungan dengan masyarakat yang seimbang. Pesan moral dalam kumpulan
cerpen “Ketika Mas Gagah Pergi” karya Helvy Tiana Rosa seolah mampu menyadarkan
generasi muda bagaimana seharusnya seorang muslim dalam berinteraksi sosial
secara islami, membina hubungan sesama muslim, dan pergaulan anak muda yang
islami yang dapat dicontoh sebagai generasi muda. Dengan demikian, melalui
interaksi sosial yang terdapat pada kumpulan cerpen tersebut, pembaca
diharapkan dapat memetik pelajaran tentang bagaimana sebaiknya kita melakukan
interaksi sosial dengan orang lain,
utamanya terhadap sesama muslim.
Hal ini bisa langsung
ditangkap melalui pendekatan kritik pragmatik. Kritik pragmatik menekankan pada
efek yang diterima pembaca setelah membaca keseluruhan karya sastra. Efek
tersebut dapat berupa pesan moral, pendidikan, amanat dan hal-hal lain yang
bisa diambil dari karya sastra itu sendiri. Dengan menggunakan kritik
pragmatik, pesan ataupun efek-efek dari kumpulan cerpen “Ketika Mas Gagah
Pergi” Karya Helvy Tiana Rosa” akan
tersampaikan kepada pembaca. Hal ini dikarenakan memang pada intinya
nilai-nilai ataupun pedoman-pedoman hidup terdapat pada cerpen tersebut.
Terlebih, ketika pesan tersebut diungkapkan melalui bentuk-bentuk interaksi
sosial antar tokoh yang berupa kerja sama, asimilasi, dan konflik. Tidak hanya
sebatas itu, pesan moral juga diungkapkan melalui melalui faktor-faktor
interaksi sosial antar tokoh yang berupa empati, motivasi, dan sugesti. Kenyataan
dalam dunia fiksi tersebut tentunya ada hubungan erat dengan kehidupan
sekarang, antara interaksi dulu dengan sekarang, sebab cerpen ini merupakan
cerpen tahun 2001. Hal ini menjadi acuan perbandingan dalam kritik pragmatik
yang akan dikaji, sehingga pembaca mengetahui tentang perbandingan-perbandingan
dan hubungannya dengan era sekarang.
METODE
Metode yang digunakan
ialah metode kualitatif dengan fokus menggunakan pendekatan kritik pragmatik. Kritik
pragmatik ialah kritik sastra dengan menekankan efek-efek kepada pembaca,
berupa pendidikan, pesan, amanat, dan lainnya. Langkah-langkah dalam metode
kritik yang pertama ialah menetapkan teori, yakni menetapkan teori sosiologi,
teori psikologi sosial, dan teori kritik sastra pragmatik. Langkah kedua, yaitu
mencari objek kritik, dan objek kritik yang dicari ialah interaksi sosial
tokoh. Langkah ketiga, yakni menelaah struktur objek kritik yang berupa bentuk
kerja sama, bentuk asimilasi, dan bentuk konflik. Langkah keempat ialah dengan
menganalisis objek kritik dengan melakukan analisis serta kritik melalui
pengutipan dan bukti-bukti yang terdapat dalam kumpulan cerpen “Ketika Mas
Gagah Pergi” karya Helvy Tiana Rosa.
Sumber data penelitian
adalah kumpulan cerpen “Ketika Mas Gagah Pergi” Karya Helvy Tiana Rosa Sumber data diperoleh
dari kumpulan cerpen “Ketika Mas Gagah Pergi” karya Helvy Tiana Rosa yang diterbitkan
oleh AsmaNadia Publishing House, tahun 2011 dengan tebal 243 halaman. Desain
sampul berwarna ungu dengan kuning muda dengan siluaet laki-laki berdiri tegap,
dan siluet wajah dengan hidung mancung.
Data yang disajikan
berupa uraian dan kutipan dialog yang menunjukan bukti interaksi sosial tokoh
dalam bentuk kerja sama, asimilasi, dan konflik. Teknik pengolahan data dengan
membuat korpus data yang sesuai. Analisis data dilakukan dengan memberikan
interprestasi pada data yang terkumpul, sehinga dapat membandingkan dan
menyimpulkan tentang bentuk-bentuk interaksi sosial antara dunia fiksi dan
kondisi kekinian.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Interaksi Sosial
Interaksi sosial adalah
hubungan-hubungan sosial yang dinamis artinya berupa hubungan antara individu yang
satu dengan individu lainnya, antara kelompok engan kelompok lainnya, maupun
antara kelompok dengan individu. Maryati
dalam Soekanto (2009) menyatakan bahwa interaksi sosial adalah kontak atau
hubungan timbal balik atau interstimulasi dan respon antar individu, antar
kelompok atau antar individu dan kelompok.
Syarat Terjadinya
Interaksi Sosial
Syarat terjadinya
interaksi sosial dapat terjadi dalam tiga bentuk, yaitu: (a) adanya orang
perorangan, (b) ada orang perorangan dengan suatu kelompok, (c) antara suatu
kelompok manusia dengan kelompok manusia lainnya. Interaksi sosial dapat
terjadi bila antara dua individu atau kelompok terdapat kontak sosial atau
komunikasi . Kontak sosial merupakan tahap pertama dari terjadinya hubungan
sosial, sedangkan komunikasi merupakan penyampaian informasi dan pemberian
tafsiran dan reaksi terhadap informasi yang disampaikan.
Soekanto (2009) juga
menyebutkan bahwa bentuk-bentuk proses interaksi sosial terdiri dari kerja sama
(cooperation), persaingan (competition), akomodasi (accomodation),
asimilasi, dan pertentangan atau pertikaian (conflict).
Bentuk Interaksi Sosial
dalam Kumpulan Cerpen Ketika Mas Gagah Pergi Karya Helvy Tiana Rosa
Bentuk Interaksi Sosial
Kerja sama dalam Kumpulan Cerpen Ketika Mas Gagah Pergi Karya Helvy Tiana Rosa
Kerja sama merupakan
bentuk proses sosial yang di dalamnya terdapat aktivitas tertentu yang
ditujukan untuk mencapai tujuan bersama dengan saling membantu dan saling
memahami aktivitas masing-masing (Rachmawati dkk, 2011: 24). Dampak dari bentuk
interaksi kerja sama ialah orang lebih peka dan peduli terhadap orang lain.
Wujud dari kerja sama dalam interaksi sosial berupa, gotong rotong, usaha bersama (Sentosa, 2015: 498). Tolong
menolong juga merupakan wujud dari kerja sama.
Kerja sama dalam kumpulan cerpen Ketika Mas Gagah Pergi karya
Helvy Tiana Rosa berwujud tolong menolong dan usaha bersama. Seperti tampak
pada kutipan berikut.
“Tak lama aku dan anak-anak FORMASI sudah menuju
daerah Tanah Tinggi untuk memberikan bantuan bagi korban kebakaran di sana.
Setelah sampai, kami semua dengan mengenakan jaket
kuning segera mengeluarkan barang bantuan dan disambut oleh beberapa pemuka
warga dengan haru. Tangisku hampir pecah melihat bayi dan balita tidur
beralaskan tikar di atas reruntuhan rumah mereka yang terbakar.” (KMGP, 2011:46).
Pada kutipan tersebut,
dapat diketahui bahwa bentuk interaksi sosial yang dilakukan tokoh ialah dengan
bekerja sama dalam menolong bencana kebakaran. Tindakan tokoh perlu
diapresiasi, tokoh mempunyai solidaritas tinggi dalam kerja sama yang nantinya
dapat membangun pribadi tokoh menjadi generasi yang peduli terhadap sesama.
Namun, dalam menjalankan kegiatan tersebut tentu saja tokoh perlu antisipasi
dan perlindungan diri sendiri. Kerja sama dalam melindungi diri sendiri dan
kelompok tentu sangat penting pula.
“Tetapi dilain
pihak, banyak pula para Ibu dan bapak-bapak di pemukiman itu yang bersimpati
dan sangat hormat kepadaku. Terkadang melalui anak mereka yang kuajar,
terkadang mereka sendiri datang padaku. Ada yang memberiku singkong atau dodol
sambil berulang kali mengucapkan terima kasih karena aku sudi mengajar
anak-anak mereka. Aku sangat terenyuh.
Tak lama, aku berhasil mengajak Aam, teman di
Kemayoran untuk membantuku. Dia juga terharu melihat anak-anak itu, anak-anak
juga senang sekali padanya. Apalagi Aam pintar bercerita dan sering membawa kue
yang dibikinnya sendiri.” (KMGP, 2011:88)
Kutipan di atas juga
menunjukan adanya kerja sama yang terjalin antara tokoh dengan tokoh lain. Saling
memberi dan saling usaha bersama. Namun agaknya, orang tua tak cukup hanya
bersimpati saja kepada tokoh, harusnya mereka lebih simpati lagi terhadap masa
depan anak-anak mereka, pendidikan mereka agar kehidupan mereka lebih baik
lagi. Mengapa demikian?Sebab kerja sama seperti di kutipan di atas tak bisa
berlangsung sepanjang waktu, ada berbagai kondisi dan situasi yang mungkin
terjadi sehingga kerja sama bisa jadi berakhir.
Bentuk Interaksi Sosial
Asimilasi dalam Kumpulan Cerpen Ketika Mas Gagah Pergi Karya Helvy Tiana Rosa
Asimilasi merupakan bentuk interaksi sosial yang berupa proses
pencampuran dua atau lebih budaya yang berbeda sebagai akibat dari proses
sosial, kemudian menghasilkan budaya sendiri yang berbeda dengan budaya asalnya
(Sentosa, 2015:499). Dampak dari asimilasi tentu saja, munculnya budaya baru
yang sebelumnya tidak ada. Wujud dari asimilasi berupa penyesuain diri terhadap
tempat yang baru ia tinggali, seperti penyesuaian terhadap aturan, nilai-nilai,
norma, serta budaya.
Asimilasi pada kumpulan cerpen Ketika
Mas Gagah Pergi Karya Helvy Tiana Rosa nampak sebagai berikut.
Dua hari di sini
kayak dua ratus tahun, Ry! Aku masih terasa asing. Kebayang nggak sih orang
yang shalatnya masih bolong-bolong terus diceburi ke pesantren.
Seperti hari
ini. Pagi aku udah digebrak-gebrak suruh bangun. Aku nggak pikirin, molor aja
terus. Aku di sini pakai duit kok! Eh, Ry...bolehnya aku dicipratin air sama
santriwati lain sambil mereka senyum-senyum. Ini nih akibat tidur di bangsal!
Ya, ruangan los yang luas ini dipenuhi lima belas tempat tidur tingkat yang
ditiiduri tiga puluh anak! Malah di atasku santriwati gembrot lagi! Boro-boro
prifasi, nggak ketiban aja sukurrr!
Shalat shubuh
kudu jamaah. Dingiiin, gemeteran! Tuan putri kan biasa bangun jam sembilan.” (KMGP,
2011:98).
Kutipan di atas
terdapat interaksi sosial asimilasi yang jelas dialami tokoh, sehingga tokoh
harus menyesuaikan kondisi dan lingkungan yang sebelumnya belum pernah ia
temui. Dalam berinteraksi sosial tentu saja terdapat proses penyesuaian. Perlu
diketahui, kebiasaan dan budaya satu orang dengan orang yang lain tidaklah
sama, jadi tidak serta-merta dapat berlaku seperti yang biasa dilakukan tokoh.
Terlebih jika itu dilingkungan seperti pesantren, agaknya tidak boleh egois, harus
peka, dan peduli dengan orang lain pula. Terlihat masih ada rasa ego tokoh yang
tinggi, sehingga menjadikan orang lain berinteraksi sosial guna membenarkan apa
yang salah pada tokoh.
Nampak juga kutipan di
bawah ini. Asimilasi yakni percampuran budaya bergaul islami dengan budaya yang
biasa ada di Indonesia.
Dan yang paling gawat, Mas Gagah emoh salaman sama
perempuan! Kupikir apa sih maunya Mas Gagah?
“Sok keren banget sih, Mas? Masak nggak mau salaman
sama Tresye? Dia tuh cewek paling beken
di Sanggar Gita tahu?” tegurku suatu hari. “Jangan gitu dong. Sama aja nggak
menghargai orang!”
“Justru karena Mas menghargai dia makanya Mas
begitu,” dalihnya, lagi-lagi dengan nada amat sabar. “Gita lihat kan orang
Sunda salaman? Santun meski nggak sentuhan. Itu sangat baik!” (KMGP, 2011:7).
Tokoh Gagah terlihat
kukuh dengan apa yang diyakininya, namun budaya tersebut belum bisa dimaklumi
oleh adiknya, Gita. Hal ini karena tokoh Gagah belum secara rinci tentang
budaya islami yang dilakukannya, serta Gita yang pemahamannya tentang islam
masih belum sempurna. Budaya yang sangat bagus tersebut memang harus melalui
proses dan lama-kelamaan akan menjadi kebiasaan.
Bentuk Interaksi Sosial
Pertikaian dalam Kumpulan Cerpen Ketika Mas Gagah Pergi Karya Helvy Tiana Rosa
Rachmawati (2011) menjelaskan
bahwa pertikaian atau pertentangan merupakan interaksi sosial, namun berbentuk bentuk
persaingan yang berkembang secara negatif, artinya di satu pihak bermaksud
untuk mencelakakan atau paling tidak berusaha untuk menyingkirkan pihak lainnya.
Dampaknya dari pertikaian tentu saja permusuhan. Wujud interaksi pertikaian
berupa perlawanan, penolakan, bahkan kekerasan.
“Sore
tadi aku jambak-jambakan sama dia di area kamar mandi. habis si Imay mandinya
lama banget. Sejam! Padahal jatah masing-masing biasanya sepuluh menit. Dia
nangis, Ry. Aku dipanggil ke ruang Ustadzah Sholihat. Sebelumnya siangnya Imay
ngelempar nampan buat makan ke muka Cahya yang piket di dapur hari itu.”(KMGP,
2011:100)
Kutipan di atas merupakan bentuk interaksi
sosial yang negatif. Interaksi yang menimbulkan konflik dan tentunya
permusuhan. Seharusnya hal ini tak boleh terjadi, karena terjadi di lingkup
pesantren. Masalah tentu dapat diselesaikan dengan kepala dingin dan tenang
agar tidak memicu emosi masing-masing tokoh.
Lelaki
dengan kemeja kotak-kotak hijau itu beristighfar.
“Nie
die, Coy! Gue temuiin! Nie die!”
“Hajarrr!
Tusuk!”
Para
pelajar itu maju dan...aku serasa tak berpijak di bumi...mereka
membacoknya!
Seluruh penumpang histeris (KMGP, 2011:53).
Kutipan di atas merupakan
pertikaian yang sudah sangat parah hingga melakukan penusukan yang membahayakan
nyawa orang lain dengan maksud menyingkirkan orang lain. Tindakan seperti ini
sudah di luar kendali, kelakuan buruk yang dilakukan pelajar yang tak
sepatutnya ditiru. Hal ini tentu saja akan mempengaruhi kepribadian mereka
ketika dewasa, sehingga mereka menjadi pribadi yang kriminal, dan tidak jelas
masa depannya.
Faktor-Faktor
Interaksi Sosial dalam Kumpulan Cerpen Ketika Mas Gagah Pergi Karya Helvy Tiana
Rosa
Interaksi
Sosial pada Faktor Empati Tokoh pada Kumpulan Cerpen Ketika Mas Gagah Pergi
Karya Helvy Tiana Rosa
Menurut Baron, Byrne,
dan Branscome menyatkan bahwa empati ialah respons afektif dan kognitif yang
kompleks terhadap penderitaan emosional orang lain. Komponen afektif identik
dengan perasaan menderita yang juga kita rasakan ketika orang lain menderita
dan ikut merasakn simpati dan peduli pada orang bersangkutan, dengan demikian
kita merasa ingin mencob meringankan penderitaannya. Komponen kognitif lebih
mengacu pada kemampuan untuk mempertimbangkan sudut pandang orang lain (Clayton
dan Jenny, 2012: 130).
Empati juga dibarengi
perasaan organisme tubuh yang sangat dalam. Contohnya: jika kita melihat orang
celaka sampai luka berat dan orang itu kerabat kita, maka perasaan empati
menempatkan kita seolah-olah ikut celaka (Slamet, 2010: 170).
Pada cerpen terdapat
kutipan yang menunjukkan bahwa ada tindakan karena faktor empati oleh tokoh,
seperti tampak pada kutipan berikut.
Di Cawang naik seorang wanita hamil. Bangku sudah
terisi semua. Wanita itu celingukan mencari tempat duduk.
“Silahkan, Mbak...,”, Aku berdiri dengan menunduk.
Menyilakannya duduk di bangku. (KMGP, 2011: 134)
Amir yang tergerak
karena alasan dan faktor empati yang tinggi membuat ia bertindak menyilakan
orang menempati tempat duduknya dan akhirnya ia pun berdiri. Namun sayangnya,
keadaan sekarang agaknya rasa empati dalam bentuk sederhana ini sulit ditemui.
Bahkan ada, karena memang ada harus peraturan khusus untuk orang hamil, mungkin
kalau tidak aturan seperti itu di bus-bus seperti busway takkan ada yang mau
mengalah.
Tidak hanya itu,
tindakan karena dorongan empati juga terjadi pada kutipan berikut.
Kuhentikan dua buah taksi.
Ayo, Pak. Masukkkan mereka!” teriakku pada yang
membopong.
“Saya nggak punya uang, Neng!”
Kukeluarkan dompetku. “Saya yang bayar!Rumah sakit
terdekat, Pak!” aku masuk ke dalam
taksi. (KMGP, 2011: 54)
Kutipan di atas, jelas
sekali empati menjadi faktor pendorong dengan wujud tindakan yakni menolong
karena terdapat musibah yang dialami oleh tokoh lain, sehingga tokoh lain
akhirnya tertolong. Perlu diketahui pula, pada zaman sekarang juga banyak
dijumpai hal serupa, namun biasanya rasa ingin menolong banyak tak terealisasi
karena seringkali kita menimbang-nimbang kemampuan yang ada sehingga menolong
dengan tindakan tidak terwujud.
Interaksi
Sosial pada Faktor Motivasi Tokoh pada Kumpulan Cerpen Ketika Mas Gagah Pergi
Karya Helvy Tiana Rosa
Motif berarti dorongan,
keinginan, hasrat, dan tenaga penggerak yang berasal dari dirinya untuk
melakukan sesuatu. Selain itu, motif-motif tersebut memberi tujuan dan arah
kepada tingkah laku kita (Gerungan, 2004: 155). Sedangkan motivasi, motivasi adalah menurut Arys (2013): “Motivasi merupakan satu penggerak dari dalam
hati seseorang untuk melakukan atau mencapai sesuatu tujuan. Motivasi juga bisa
dikatakan sebagai rencana atau keinginan untuk menuju kesuksesan dan
menghindari kegagalan hidup. Dengan kata lain motivasi adalah sebuah proses
untuk tercapainya suatu tujuan. Seseorang yang mempunyai motivasi berarti ia
telah mempunyai kekuatan untuk memperoleh kesuksesan dalam kehidupan.”
Motivasi merupakan
faktor penggerak maupun dorongan yang dapat memicu timbulnya rasa semangat dan
juga mampu merubah tingkah laku manusia atau individu untuk menuju pada hal
yang lebih baik untuk dirinya sendiri. Selain itu, adanya motivasi yang cukup
pada pribadi seseorang membuat orang tersebut dapat melaksanakan pekerjaan
dengan berhasil. Tanpa adanya motivasi, maka maka orang tidak akan bisa berbuat
apa-apa dan tidak akan bergerak (Gerungan, 2004:156). Motivasi berdampak pada
perubahan diri dan perilaku seseorang yang berwujud pengaraan, dan dorongan
semangat.
Seperti tampak pada
kutipan berikut.
“Kita
harus tabah. Sekarang keadaan Bang Ical sudah lebih baik. Insya Allah,” Ita
berhenti sesaat, “Kita harus terus puasa, shalat, dan berdoa kepada Allah, agar
Allah menolong kita.” (KMGP, 2011: 160)
Kita dapat melihat, bahwa motivasi merupakan faktor
yang memicu untuk sikap tokoh agar tetap tabah dan percaya pada pertolongan
Allah. Tokoh juga tetap puasa, shalat sebagai motivasi agar diberi kekuatan dan
ketabahan. Perlu ditekankan bahwa, shalat motivasi, melainkan sudah kewajiban.
Begitu juga puasa, meski yang wajib hanya pada bulan Ramadhan, tetapi puasa
mampu melatih kita dalam bersikap, bertindak dengan baik.
Tidak hanya itu, kutipan karena dorongan motivasi
juga terdapat pula pada bagian berikut.
"Ayo dong Gita, lebih feminim. Kalau kamu mau
pakai rok, Mas rela deh pecahin celengan buat beliin kamu rok atau baju
panjang. Muslimah kan harus anggun. Coba adik manis, ngapain sih rambut
ditrondolin begitu!" (KMGP, 2011: 3).
Melalui interaksi sosial motivasi ini tokoh
Gita akhirnya memakai jilbab karena Gagah terus memotivasi Gita tanpa henti,
entah itu dengan memberi hadiah dan apresiasi terhadap usaha Gita. Namun
agaknya untuk berubah menjadi lebih baik, tak perlu kita harus memancing dengan
sesuatu hal, karena dalam hal ini ditakutkan menjadi lebih baik bukan karena
keinginan diri yang kuat, melainkan karena sesuatu hal, misalnya imbalan dan
pamrih, sehingga dalam karakter akan tumbuh sifat kurang ikhlas.
Interaksi Sosial pada Faktor
Sugesti Tokoh pada Kumpulan Cerpen Ketika Mas Gagah Pergi Karya Helvy Tiana
Rosa
Sugesti ialah memberikan pandangan atau sikap pada
dirinya yang lalu diterima oleh orang lain.
Sugesti berperan sebagai pembentukan norma-norma kelompok,
prasangka-prasangka sosial, norma-norma susila, politik, dan lainnya. Sedangkan
dalam psikologi, sugesti merupakan suatu proses di mana seorang individu
menerima suatu cara penglihatan atau pedoman-pedoman tingkah laku dari orang
lain tanpa kritik terlebih dulu (Gerungan, 2004: 65).
Sugesti
dapat diberikan dari seseorang individu kepada kelompok. Kelompok kepada
kelompok kepada seorng individu. Contoh : Seorang remaja putus sekolah akan
mudah ikut-ikutan terlibat “Kenalan Remaja” tanpa memikirkan akibatnya kelak
(Slamet, 2010: 170) . Sugesti berwujud
nasehat, arahan, dan sikap dapat menerima pendapat/ide orang lain.
Seperti tampak pada kutipan berikut.
“Ita,
tabah,” kataku sambil menangis lagi. “Ingat saudaraku firman Allah, Rabb kita;
na’udzubillah..., apakah manusia itu mengira mereka dibiarkan saja mengatakan
kami telah beriman, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah
menguji orang-orang yang...sebelum mereka. Maka sesungguhnya Allah mengetahui
orang-orang yang benar dan Ia sungguh mengetahui orang-orang yang dusta...,”
kubisikkan ke telinganya, surah ‘Al-Ankabut ayat 2 dan 3. (KMGP, 2011: 166).
Data diatas dapat dijelaskan bahwa ketika seseorang
terpuruk, sangatlah manusiawi jika sedih sekali, namun di atas tampak bahwa
tokoh lain mengarahkan tokoh utama dengan nasehat dan arahan tentang Q.S
Al-Ankabut ayat 2 dan 3 agar menjadi acuan tokoh agar tidak sedih dan merasa
terpuruk. Tokoh lain membuat tokoh utama untuk menyetujui apa yang disampaikan
sehingga akhirnya tokoh utama kembali ceria karena ia menerima pandangan tokoh
lain. Banyak sekali masalah yang menimpa setiap manusia, namun jika kita bersedih
takkan bisa selesai. Dukungan dari orang lain seperti pada tokoh utama yang
mendapat arahan dari tokoh lain akan membuat kita lebih tenang. Namun kita
tidak perlu menunggu untuk diarahakan atau dinasehati, tentu kita sudah pasti
mengetahui bahwa ujian hidup itu ada, dan semua tergantung kita menyikapinya.
Begitu juga dengan kutipan berikut.
“Mengapa
saya mengenakan jilbab? Alasan pertama karena berjilbab adalah perintah Allah
dalam surat Al Ahzab ayat 59 dan An Nur ayat 31. Kedua, karena jilbab merupakan
identitas utama untuk dikenali sebagai seorang muslimah. Astri Ivo, seorang
artis, justru mulai menggunakan jilbab saat kuliah di Jerman. Saya
Alhamdulillah mulai mengenakannya saat kuliah di Amerika.” (KMGP, 2011: 16)
Kutipan di atas merupakan
bentuk pandangan/ide. Hingga pada akhirnya tokoh dengan mendapat pandangan dari
Al-Qur’an, dan Hadist yang disampaikan orang lain berdampak tokoh dengan mantap
mengenakan jilbab. Dalam hal ini, tokoh mudah dipengaruhi melalui nasehat dan
saran melalui pandangan orang lain, namun agaknya tokoh seperti tidak mempunyai
kekuatan pendirian dan pedoman dalam hal agama. Padahal dalam kehidupan, agama
adalah landasan dasar dalam hidup. Jika tidak mempunyai dasar yang kuat, tentu
saja akan terombang-ambing dan mudah dipengaruhi.
SIMPULAN
Dari berbagai penjelasan
di atas, dapat kita simpulkan bahwa faktor yang mendorong tokoh untuk
berinteraksi sosial di dalam kumpulan cerpen Ketika Mas Gagah Pergi karya Helvy Tiana Rosa sangatlah kaya,
terlebih interaksi kepada sesama muslim dan muslimah. Faktor-faktor interaksi
yang dapat ditemukan berupa faktor empati, faktor motivasi dan faktor sugesti. Selain
itu, bentuk-bentuk interaksi sosial tokoh berupa bentuk kerja sama, asimilasi,
dan pertikaian. Tentu saja hal ini berhubungan erat dengan kondisi saat ini.
DAFTAR
PUSTAKA
Anwar,
Yesmil dan Adang. 2013. Sosiologi: Untuk
Universitas. PT Refika Aditama.
Gerungan,
W.A. 2004. Psikologi Sosial. Bandung:
PT Refika Aditama.
Mercer,
Jenny dan Debbie Clayton. 2012. Psikologi
Sosial. Jakarta: Erlangga.
Nurgiantoro,
Burhan. 2010. Teori Pengkajian Fiksi.
Yogyakarta: Gadjah Mada
University
Press.
Soekanto,
Soerjono. 1990. Sosiologi: Suatu
Pengantar. Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada.
Tiana
Rosa, Helvy. 2011. Ketika Mas Gagah Pergi.
Depok: AsmaNadia Publishing.
Djajasudarma,
Fatimah. 2006. “Metode Linguistik
Ancangan Metode Penelitian dan
Kajian”. Bandung:
PT Refika Aditama.
Yudiono, KS. 1986. Telaah Kritik
Sastra Indonesia. Bandung: Angkasa.
Amrin Tegar
Sentosa, “Pola Komunikasi dalam Proses Interaksi Sosial di Pondok
Pesantren Nurul Islam
Samarinda”, (online) http://ejournal.ilkom.fisipunmul.ac.id/site/wpcontent/uploads/2015/09/jurnal%20(09-10-15-11-21-20).pdf, diakses pada
tanggal 22 April 2016.
Victoria Eny Megasari, “Pendekatan
Pragmatik Cerpen Hana Karya Akutagawa
Ryuunosuke Terhadap Pembaca”, (online) http://download.portalgaruda.org/article.php?article=73991&val=4703&title, diakses
pada tanggal 22 april 2016.


Komentar
Posting Komentar