Lockdown, Setujukah?
Lockdown, Setujukah?
Dunia sedang kehilangan nafas. Corona
alias covid-19 benar-benar membuat seluruh dunia geleng-geleng kepala. Hal ini
karena imbasnya seperti domino. Bukan hanya domino pada angka korban dan
kematian, melainkan domino di berbagai aspek yang fundamental pada suatu negara.
Yes, negaraku Indonesia sedang berjuang untuk hal ini. Banyak doa agar semua
ini bisa dilalui. Awalnya pemerintah seakan tidak transparan mengenai kasus
corona, karena rakyat terus mendesak dan rakyat dipenuhi kepanikan, akhirnya
pemerintah mau tak mau harus berterus-terang kepada rakyat. Dan sejak diumumkan
pada awal-awal Maret hingga sekarang korban corona mencapai angka 309, dengan
angka kematian 25, sembuh 15 orang. Bukan angka yang kecil, tapi angka yang melonjak tajam. Berawal dari 2, melonjak ke angka 90, hingga kurva
seakan tak terkendali mencapai 10 kali lipat dari yang diperkirakan.
Sikap pemerintah yang didesak untuk
lockdown mengikuti negara yang lain belum mencapai kesepakatan. Pemerintah
memilih satu jalan yang dipilih yakni melakukan tes covid-19 secara massal.
Lockdown ataupun tidak lockdown sama-sama memiliki risiko yang tak bisa kita
hindari, akan tetapi kita harusnya dapat menentukan mana risiko yang
presentasinya lebih kecil. Mimin lebih memilih lockdown, why? Resikonya banyak,
para ojol, para pedagang kaki lima bisa-bisa ngga makan gara-gara lockdown,
gila kali kau Min memilih lockdown. Ekonomi negara kau ini belum sehebat negara
maju. Mimin paham semua berpikir demikian. But...
Beberapa alasan kenapa setuju
banget lockdown
1. Angka
kematian yang tinggi mencapai 8%.
2. Lonjakan
tajam dari ke hari-hari mencapai 10 kali lipat.
3. Terbatasnya
alat pencegah seperti masker, hand sanitizer.
4. Terbatasnya
baju untuk tenaga tim medis. Bahkan salah satu selebgram Rachel Venya hanya
mampu memesan 1000 pcs karena memang terbatas. Dipakainya kan tidak bisa
berkali-kali.
5. Alat
medis kita juga terbatas dan belum cukup memadai.
6. Jika
rumah sakit penuh, maka tenaga kesehatan akan kewalahan atas lonjakan tersebut.
Risiko lockdown memang merembet ke
sektor ekonomi. Maka kemungkinan terbesar bisa terjadi panic buying. Panic
buying merupakan kegiatan membeli barang dalam jumlah besar untuk persediaan
beberapa waktu. Efek panic buying tentunya membuat barang langka. Indonesia
belum di tahap ini, akan tetapi jika darurat lockdown, panic buying pasti terjadi.
Sepertinya dunia memang diperintahkan untuk istirahat sejenak. Beberapa negara
besar seperti Malaysia, Arab Saudi sudah melakukan lockdown. Indonesia memilih
tes massal sama seperti yang dilakukan oleh Korea Selatan. Di balik keputusan
tersebut, kita tahu bahwa Indonesia itu luas, jumlah penduduk juga banyak.
Belum di daerah yang terpencil. Pastinya jumlah tenaga medis yang akan
diturunkan juga tidak sedikit, padahal upaya kita adalah menghindari kerumunan.
Tenaga medis yang secara langsung datang dari rumah sakit juga sangatlah rawan.
Mimin pribadi kurang sependapat jika memang harus tes massal. Bukankah lebih
bijak kita konsen ke arah penanganan dan pencegahan, salah satunya ialah
lockdown. Lockdown sungguh tidak lama, sementara.
Faktanya sekarang yang membuat makin
bergejolak, ketidakmampuan goverment kita menekan angka kematian akibat
covid-19 berakibat pada kurs rupiah yang anjlok, mencapai 16.550/ dolar. Kita
tahu semakin rumit. Menurut Mimin Indonesia belum bergerak cepat dalam membuat
keputusan, sehingga telat sedikit saja berimbas pada ekonomi menjadi tidak
stabil. Jadi, marilah kita konsen pada penanganan dan pencegahan tolong. Kita
paham bukan bahwa tim medis kelelahan, ya tahu namanya juga pengabdian dan udah
tugasnya, tapi setidaknya melihat situasi yang begini, kebijakan yang lebih
tegas kepada masyarakat harus segera diputuskan.
Untuk para masyarakat, ayo kerja sama.
Kita perlu banget menerapkan social distancing kalau emang negara kita beum
memberikan keputusan untuk lockdown. Jangan malah keluyuran nggak jelas. Kita
putus sama-sama rantai penyebaran dan efek domino penyebaran covid-19. 14 hari
waktu isolasi, waktu untuk merefleksi, untuk melakukan pekerjaan rumah yang
belum kita kerjakan karena selama ini kita sibuk di luar. 14 hari libur, bukan
liburan. Masih heran dengan pola pikir masyarakat kita yang berpikir demikian.
Seolah tidak taku apa-apa. Kalau ditanya juga dibilang udah takdir. Iya kita
tahu ya takdir, tapi bukankah membahayakan nyawa orang lain adalah sesuatu yang
tidak diajarkan dalam agama? Menolong sesama di tengah ancaman pandemi seperti
ini juga bernilai amal soleh? Iya memang belum tentu wafat dalam keadaan terkena
corona, tapi yang lain? Harusnya kita respect ya dengan yang begini. Mau nunggu
orang berjatuhan ribuan dulu baru sadar apa artinya respect satu sama lain?
Padahal dengan yang sekarang ditetapkan
pemerintah untuk social distancing membuat kita lebih menikmati gegoleran di
kasur yang empuk, lebih banyak waktu untuk banyak beribadah di rumah, banyak
waktu berkumpul keluarga dengan menikmati hidangan pisang goreng yang dibuat
mama, dan ngga melulu makan junk food kan. Oh iya satu hal, di sini kita juga
menemukan opini lain, bahwa menabung itu sangat perlu. Menabung untuk cadangan
jika menghadapi gejolak seperti pandemi yang membuat krisisnya ekonomi. Jika
memang lockdown, seengaknya tukang ojek online punya tabungan, pedagang kaki
lima punya tabungan, kita siap dengan itu. Hari ini krisisnya hampir menyamai
tahun 1998 ya. Tetap tenang, kita percayakan pada pemerintah, kita titipkan
tugas tersebut kepada Bapak Jokowi dan kabinetnya. Kita bukan ahli ekonomi,
kita bukan ahli tenaga medis. Kita terus support dan awasi, kita terus waspada,
patuhi segala kebijakan yang ada. Jangan sok mempunyai nyawa tujuh kali lipat. Hargai
mereka yang sudah wafat, yang sudah sakit, dan terutama untuk para gerda depan
yang berjuang tim dokter, perawat dengan berbagai risiko yang ada di depan
mata. Jadi kalian setuju yang mana nih? Lockdown atau tidak lockdown. Kita support
terus ya pemerintah, jika memang sampai akhir Maret tidak berubah dan lonjakan
makin tak terkendali. Bisa jadi kita lockdown. namun keputusan tersebut hanya berada di tangan goverment kita.
Sehat selalu,
Lila A.



Komentar
Posting Komentar