Kerandoman Jadi Freshgraduated
Random
Menjadi Freshgraduated
Wisuda UMM (imagebylylaaa)
Lulus 2019, telat dong untuk 4,5
tahun. Jangan ditiru, ya Fren! Mau berbagi pengalaman sebagai mantan
freshgraduated yang pernah luntang-luntung nggak jelas tujuan hidupnya. Jadi mahasiswa 2014. Lulus 2019 awal. Bahagia
banget dong bisa lulus, kuliah rampung alias selesai. Melegakan. Wisuda juga
akhirnya. Dan sampailah Mimin di fase, mencari pekerjaan. Nah ini poinnya. Kalau
diinget astaga naga wkwk.
Aku terlalu muluk-muluk pas nyari
kerja. Pengen kerja di lembaga pendidikan yang highclass, yang favorit. Banyak
yang menawarkan di sini aja, di situ aja, disarankan jangan terlalu
muluk-muluk. Bahkan sudah ada dikerabat yang menawarkan langsung kerja,
lembaganya baru berdiri. Kukuh dengan idealis yang terlalu pilih-pilih,
akhirnya aku menolak. Nah pas tahun ajaran baru itu, anyak sekolah SMP, SMK
yang bagus membuka lowongan. Salah satunya di SMA berbasis Islam pesantren
modern. Melamar di situ, tahap administrasi, tahap microteaching berjalan,
saingan tidak ada. Hasilnya? NIHIL. Mimin ditolak.
Perjuangan berlanjut di SMK
Muhammadiyah ternama di kabupaten Malang. Saingan banyak, berpengalaman,
microteaching keren-keren. Hasilnya? NIHIL. Aku ditolak juga. Tidak apa-apa,
namanya perjuangan. Apa ada yang mudah? Lanjut, aku melamar di Madrasah Aliyah
Negeri Kabupaten Malang, saingan lumayan. Mikroteaching lancar. Hasilnya?
NIHIL. Temanku yang dapat tempat. Sedih? Putus asa? Merasa minder? Tentunya iya
dong. Berkali-kali Mimin mengoreksi apa yang salah, apa yang kurang. Munculah
beberapa list yang Mimin perbaiki dan semoga bisa menjadi acuan teman-teman
yang mau lulus, ya.
Pertama, minimnya pengalaman.
Selalu yang ditanya saat wawancara adalah pengalaman kerja. Apes! Mimin masih
baru lulus, pengalaman tidak ada. Ya sudah akhirnya tidak masuk dalam list
penerimaan kepegawaian. Kedua, microteaching yang masih amburadul. Jujur ya
dulu amburadul sekali. Kalian kalau mau jadi guru ngga bisa ngomong itu
siksaan, tetapi kalian harus belajar ya. Saingan kerja banyak, mereka semua
punya kompetensi yang unggul. Kalian juga harus punya. Ketiga, percaya diri.
Ini susah banget, aku sempet deg-degan. Keempat, kuasai materi dengan baik,
kalau tidak pasti kelimpungan. Itu beberapa listnya.
Jadi pertanyaannya, kenapa aku
muluk-muluk sekali? Ingin di sekolah yang ini yang itu. Banyak teman-teman yang
tidak tahu strategi begini. Secara realistis, gaji guru tidaklah banyak seperti
pejabat. Jadi untuk tuntutan tersebut, pumpung masih muda, kuat berlari, aku
cari saja sekolah yang bagus, income juga bagus. Kapan-kapan aku akan tulis,
rasanya mengajar di sekolah favorit dan apa saja yang aku dapatkan dan
pelajari, serta bedanya sama sekolah yang lainnya. Keluar dari zona nyaman, dan
keluar dari perkataan, ‘Udahlah di situ aja!’
Jadi itu Fren, motivasiku. Toh ya
yang dapat income bagus, yang dapat pengalaman kita sendiri. Selagi muda,
mampu, berlari yang jauh. Jangan mau pasrah dengan kata ‘Udahlah di situ aja!’.
Nanti suatu saat kamu pasti merasa kok, yang awalnya passion dan bilang sama
diri sendiri ‘Udahlah yang penting mengajar, masalah income ada Allah Yang
Mengatur.’ Hei Fren, coba sini dengarkan! Iya betul, yang mengatur itu Allah,
tapi kan harus ada upaya, usaha. PENTING! Pertimbangkan ke depannya, untuk
karir ke depan apa akan stabil untukmu? Menurutku, sekolah yang brandingnya
bagus akan memberikan banyak keuntungan dibanding sekolah yang bahkan belum
membuat branding. Random banget ya. Mimin sekarang? Alhamdulillah, Mimin
menjadi guru di sekolah terbaik, sekolah memberikan kesempatan untuk melatih
skill, sekolah memperhatikan kesejahteraan Mimin. Eyaaa. Alhamdulillahi alaa
kulli haal.



Komentar
Posting Komentar