CERPEN : PAMIT
Seusai
maghrib, sesuai dengan kebiasaanmu yang hanya memiliki waktu luang. Aku
memberanikan diri, kurasa ini tepat. Meminta maaf sekaligus pamit dengan
hormat. Membawa sepucuk undangan berwarna krem cerah. Mungkin aku yang
berlebihan mengira bahwa semua yang terjadi tidaklah baik-baik saja. Padahal
mungkin semua berjalan seperti biasanya. Apalagi seorang pria yang begitu
mudahnya melupakan peritiwa genting atau bahkan penting. Sama seperti aku yang
terlupakan olehnya ketika rasa pedih, sakit mencabik seluruh nadi beberapa
tahun lalu. Aku yang salah, dan aku yang pantas menerima kesakitan itu. Kuharap
hari ini lancar Tuhan. Takkan ada sakit-sakit yang terus tersimpan.
Aku
mengintip kecil, rupanya dia sedang mengobrol dengan sejawatnya. Langkah ini
seperti memikul puluhan karung beras, berat abot kalau orang Jawa bilangnya.
Aku kembali bersembunyi, kalau tetap begini, sampai subuh pun akan begini
terus. Aku melajukan kakiku. Ya Allah, dia melihatku. Jantungku sangat
berdebar, seolah kata yang aku susun sedari hari kemarin hilang. Gila memang.
Aku membalas tatapan tersebut dengan senyuman, sama seperti balasanku dari
beberapa tahun lalu, ketika ia selalu menatapku. Janganlah menangis di sini,
batinku. Oh tidak! Aku kan sedang tersenyum. Perlahan aku mendekat. Ia mempersilahkan
aku duduk di lain tempat.
“Loh,
sama siapa?” tanyanya sambal melihat sekelilingku.
“Sendiri,”
jawabku masih tersenyum.
“Gimana
kabarnya? Kemana saja kamu?” tanyanya bertubi-tubi, memang sudah hamper tahunan
tidak berjumpa.
“Urusannya
sangat banyak. Maaf ya baru sempat mampir.” Jawabku sembari menata dudukku.
“Kamu
mau menikah, ya?” tanyanya datar dan tersenyum. Sudah kuduga, ekspresinya
selalu begitu. Aku tertawa kecil dan mengangguk. Sialnya, mataku berkaca-kaca
duluan. Aku tersenyum, senyum ini getir atau bahagia aku tidak tahu.
“Menikahlah!
Tuhan sudah merestui, semesta, aku termasuk di dalamnya. Berbahagialah, aku sungguh
minta maaf segala kekeliruan yang mungkin menjadi beban untukmu. Btw, undangannya
pesan di mana? Bagus ini. Hehe!” katanya pelan. Tak sanggup, air mataku
tumpah. Bening tidak mengucur, hanya air
mata yang tiba-tiba terpotong karena kedipan mata. Mungkin dia kaget, ia mengusap
kepalaku.
“Jangan
menangis! Kamu mau menikah! Dilihat mas mas loh! Ga malu?” aku masih sesengukan
mengusap air mata.
“Maaf
sudah merepotkan banyak hal. Sudah menjadi beban dulu. Seperti katamu aku akan
bahagia.” sahutku sambal tersekat. Dia mengusap kepalaku lagi.
“Kamu
sudah dewasa sekarang. Jadilah istri yang baik, dan jadilah ibu yang
mengagumkan sama saat kamu masih berseragam putih abu-abu dulu.” Ujarnya. Aku tersenyum
lebar kali ini. Lega.
Kututup
pertemuan dengan lambaian tangan kecilku yang disahutnya dengan lambaian tangan
kanannya. Senyumku masih sama saat aku menatapnya, hanya saja suasana berbeda.
Tidak adalagi yang tersisa. Aku pergi dengan cinta yang baru, aku menyambut
cinta sejatiku. Tuhan beri dia kelipatan kebahagiaan yang menjadi keinginannya.
Aku pergi dan pamit.



Komentar
Posting Komentar