Bahu Anak Tunggal yang Harus Kuat


Bahu Anak Tunggal yang Harus Kuat

Anak tunggal, kalau orang Jawa menyebutnya ‘anak ontang-anting’ . Anak yang tidak mempunyai saudara kandung.  What do you think about them? Manja, apapun selalu ada, kurang mandiri, enak selalu dikabulkan keinginannya? Kayak gini? Well, tidak ada yang salah dengan perspekstif demikian. Banyak fakta yang benar. Tapi tidak semua anak tunggal begitu lho. Itu karena kalian hanya melihat mereka dari sisi luar. Sisi dalamnya? No, anak tunggal adalah orang yang sangat menjunjung tinggi sebuah privasi.
Sedari kecil yang tidak pernah berbagi, jujur ketika dewasa emang agak songong dan egois tinggi. Sekali punya mereka, mereka itu mikirnya ya milik mereka bukan milik orang lain. Apalagi masalah kebutuhan, kadang mereka tidak berpikir panjang. Maunya sekarang harus sekarang itu juga, inginnya tidak mau ditunda. Sungguh menjengkelkan. Tapi lihat sekali lagi, ya.
Anak ontang-anting ini adalah satu-satunya harapan keluarga. Ketika dewasa, orang tua hanya mengandalkan anak semata wayangnya. Untuk merawat, melindungi, menjaga orang tua tentu dilakukan sendiri. Sudah kebayang di umur 20-an. Beban itu berjejer rapi di pundak sejak lama, tentang bagaimana menghidupi ayah ibu kelak sendirian tanpa bantuan bala saudara, tentang pesimistis, optimistis yang sangat memberi tekanan besar. Pikiran mereka, bagaimana caranya bisa sukses untuk bisa menghidupi kedua orang tua seorang diri. Jadi kalau kalian pantau mereka enak-enak. Tidak sama sekali. Ya kecuali kalau anak tunggal tersebut adalah pewaris hotel bintang 5, juragan 5 kos-kosan.


Selain menempuh segala cara sukses, yang terdalam adalah anak tunggal adalah orang yang kesepian. Tidak ada teman mengobrol, berbagi hal sederhana pun tidak ada, sendiri. Tidak memungkinkan sekali kalau harus bercerita pada orang tua masalah paling pribadi. Takutnya orang tua ikut kepikiran dan akan jadi beban mereka juga. Keinginan untuk mengungkapkan kadang harus menjadi draft dalam sebuah pesan yang tak tahu kapan akan dikirimkan.



Dalam segala hal, anak tunggal dituntut selalu mandiri. Mengerjakan apapun sendirian, harus bisa terlepas dari orang tua. Anak tunggal harus berani dan bertanggung jawab akan beberapa resiko di depan yag ditanggung sendiri tanpa melibatkan orang lain. Mikirnya pokoknya orang tua lihat kita berhasil, jangan sampai lihat kesusahannya bagaimana. Selain itu, tak jarang sangat menjunjung tinggi sebuah kesempurnaan yakni sedikit perfeksionis. Ini malah kebiasaan yang selalu membuat menjadi beban pikiran keruh.
Kesepian, tanggung jawab besar, beban pundak sendirian adalah warna-warni kehidupan mereka yang jika dipandang selalu enak, nyatanya tidak. Pikiran mereka penuh dengan orang tua, orang tua, dan orang tua. Bersyukurlah bisa bertengkar kecil dengan saudara, berbagi, berargumen atau berdebat dengan mereka. Pada akhirnya nanti kebahagiaan orang tua akan ditanggung bersama, tidak hanya satu orang. Kalau bergantian kan enak ya, “Ah gapapa, masih ada Mas ada Mbak juga”. Untuk anak tunggal, kalimat tersebut bahkan tak pernah ada, yang ada “Aku harus cepat ke sana, aku harus di sana apapun yang terjadi”.
Cukup sekian dari aku, mari lanjut ngopi! Btw Mimin anak tunggal sih haha


Lila A.




Komentar

Postingan Populer