Kuliah di Kampus Swasta? Why Not!


Kuliah di Swasta? Why Not!

Hanya anak kampus swasta yang bisa feel seperti ini. Dipandang sebelah mata,  dianggap kurang cerdas tak bisa tembus PTN, dibilang sok kaya tapi skill tidak ada. I feel you. Mimin sendiri adalah lulusan kampus swasta. Insecure itu ada, tapi Mimin tetap semangat. Ilmu itu di mana saja, siapapun yang memberi kalau bermanfaat, kenapa tidak? Kuliah di manapun sama kalau kalian tidak berkembang. Beberapa hal berikut yang hanya dirasakan oleh anak kuliahan swasta.

1.   Dibilang Kurang Kompeten
         Sering sekali anak kampus swasta itu katanya kurang kompeten. Eits tunggu dulu, buktinya banyak loh kampus swasta yang mahasiswanya lolos PIMNAS, program dan projectnya terealisasikan dan membawa manfaat bagi masyarakat. Tidak berarti yang masuk PTS (Perguruan Tinggi Swasta) tidak memiliki bekal apapun, tidak memiliki kompetensi, tidak bisa bersaing dengan kampus negeri unggulan. 

 2.  Katanya ‘Anak Kaya’
          Iya. Berkuliah di kampus swasta dituntut biaya mandiri berbeda dengan kampus negeri yang sebagian administrasi ditanggung oleh kampus. Tapi tidak bisa dipukul rata begitu. Tidak semua kampus swasta dari golongan orang elit, kampus swasta juga menyediakan bagi mereka beasiswa untuk mahasiswa yang kurang mampu. Menurut pendapatku pribadi, masalah katanya anak kaya tergantung dari gaya hidup individu. Semua dari golongan sama yang semangat belajarnya tinggi, tidak bisa masuk negeri, tapi kampus swasta membuka jalan untuk itu. Ilmu memang mahal, tapi manfaatnya bukan hanya untuk satu waktu, melainkan ilmu ialah investasi jangka panjang untuk kehidupan yang lebih baik. Benar bukan? Jadi, orangtua yang sadar akan pendidikan tidak akan segan mengeluarkan biaya untuk anaknya yang menimba ilmu. Kampus swasta bukan dari golongan orang seperti yang disangka, sama saja. Buktinya banyak mahasiswa swasta yang dicap kaya-raya masih mengeluhkan terlambatnya uang bulanan, mahalnya biaya print dan fotocopy.

3.   Program Studi yang Diragukan
         Wah simak baik-baik ya. Kampus swasta ini logikanya adalah kampus mandiri yang berupaya keras cuntuk mendapatkan mahasiswa. Setiap tahun, setiap bulan, setiap hari tentunya berbenah, meningkatkan kualitas dan kuantitasnya. Boleh dibilang kerja keras dua kali lipat. Jika kampus negeri tidak usah banyak promosi tapi mahasiswa sudah sangat tahu kualitasnya, berbeda dengan swasta yang semaksimal mungkin mempromosikan keunggulan. Mulai dari status akreditasi, prestasi, keunikan, dan pengenalan dosen yang mumpuni.  Pastinya berusaha agar akreditasi dan prestasi berjalan seiringan dan membuat benteng pertahanan agar tetap di posisi yang stabil. Tapi program studi kampus swasta itu tidak bisa dianggap kaleng-kaleng. Banyak kampus swasta yang memiliki status akreditasi yang sama dengan kampus negeri. Banyak yang akreditasi ‘A’. Menyandang akreditasi ‘A’, bukanlah perkara mudah. Mahasiswa dan dosen dituntut untuk menyinkronkan kerjasama. Bagaimana upaya dosen untuk mampu mendorong mahasiswanya, memotivasinya agar saling bekerja keras. Bukan hal yang mudah loh! Mimin pernah, dan itu memang tidak gampang.

 4.  Biaya Mahal
         Ini jelas ya, karena kampus mandiri. Gaji dosen, gaji karyawan secara mandiri kampus yang membiayai. Selain itu, biaya pengembangan, biaya penelitian, perbaikan layanan, peningkatan mutu, sarana dan prasarana, secara mandiri kampus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Belum lagi kampus swasta harus memiliki keunikan, ciri khas, branding yang mampu mendongkrak minat mahasiswa untuk berkuliah di sana. Logikanya kalau tidak mahal ya tidak bisa meningkatkan kualitas. Semua butuh dukungan dari segala lini.
        Sementara itu saja menurut Mimin. Mimin alumni kampus swasta ini cukup paham dengan pergesekan yang sering terjadi di antara kampus negeri dan swasta, baik dari sosial, dari segi emosional bahkan. Sekarang yang terpenting adalah kesadaran bahwa ilmu pendidikan ialah aset masa depan penting. Baik swasta maupun negeri tidak menjadi masalah. Yang menjadi masalah adalah ketika kita belum menyadari betapa pentingnya ilmu, pentingnya pendidikan tinggi. Lah kan, tidak punya biaya saat ingin kuliah dulu. Itu jawaban yang pesimistis. Padahal ya, beasiswa banyak, pemerintah sangat pro pada pendidikan untuk anak-anak bangsa. Kalau sedari awal sudah down, ya itu yang akan tersugesti pada diri sendiri. Rasulullah shallahualaihiwassalam bersabda, “Sesungguhnya aku tergantung prasangka HambaKu terhadapKu”, maksud hadist di atas adalah berhunudzonlah pada Allah, berbaik sangka, stay calm, positive thingking pada Allah, maka apa yang tidak mungkin bagi Allah untuk mengabulkan. Berdakwah.
            Sekali lagi, ilmu itu penting ya. Jangan menyesal di kemudian hari. Jujur saja, kalau disuruh memilih, Mimin ya milih kampus negeri. Siapapun pasti mengidamkan kampus negeri unggulan sebagai tempat menimba ilmu. Pesan Mimin buat adek-adek rajin belajar, gapai impian di kampus yang kalian idamkan. Persaingan di dunia ini semakin ketat, salah mengambil keputusan agar berdampak panjang. Yuk semangat!

Dariku sebagai alumni kampus swasta,

Lila A.

Komentar

Postingan Populer