KAKTUS Jilid 1 (dwilogi kumpulan puisi)
Pada laut yang biru
Juga pada camar yang bermain di puncaknya
Mengapa padanya
Bahkan bibirku merapat
Tak sempat
bertanya
Juga bibirku makin
beradu
Jika padanya sudah menjelma
Sebagai jarak yang jauh
Yang tak sempat kutembus
Bahkan sebelum berjuang
Aku pun telah dilempar jauh-jauh
-Malang, 22 Mei ‘16
Sepoi takkan pernah tahu
Tak juga dengan kupu-kupu
Bahkan udara pagi
Kuperintahkan tak berbisik
Ketika setiap hari kumenulisimu
Ketika setiap hari ceritamu
Menjadi lembar-lembar isi kertasku
ketika apapun yang kau lakukan
membuat penuh isi bukuku
tak apa kan jika tanpa izinmu?
Kupilih ini
Karena hanya ini
Yang terbaik padaku
Juga padamu
Hingga ada ujung yang terbaik
-Malang, 22 Mei ‘16
Lara mungkin jawaban
Tentang apa yang sedang dipertanyakan
Pedih juga sebuah kepastian
Ketika diri bertanya dengan penasaran
Kalaupun jawaban adalah bara menyala
Di hari lain ketika kita bertanya
Jawaban bisa jadi angin semilir
Yang mendinginkan untuk selamanya
-Malang, 22 Mei 2016
Ketika kayu memilih dibakar
Maka harus bersiap menjadi abu
Yang lenyap
Tak berbekas dan menghilang
Harus ikhlas pergi
Ketika berkorban hanya
Untuk kehangatan
Bahkan jika itu tidak lama
-Malang, 22 Mei 2016
Ketika berlari pada sabana
Aku adalah ilalang
Aku terhanyut gerak udara
Yang mengikuti bekas-bekas kakimu
Kau tak tahu?
Kuharap begitu
Menurutmu bagaimana?
Berterus terangkah?
Padamu?
Terus terang
Sungguh menyukaimu
-Malang, 24 Mei 2016
Jika kau pikir aku adalah akhwat gila
Mungkin iya
Mana ada wanita muslimah anggun
Yang pandai merayu
Untuk apa aku merayu
Maukah kau kuceritakan sesuatu?
Ini adalah syair
Ini adalah kata-kata
Yang menjadi andalanku
Ketika dengan bibirku
Aku membeku di depanmu
-Malang, 24 Mei 2016
Memudarkanmu
Menyilakkanmu
Membalikanmu
Membakarmu
Memalingkanmu
Membenamkanmu
Sebenarnya apa lagi?
Cara untuk agarku tak menunggumu
Sendirian tanpa sandingan
Lelah!
Pergilah!
- Malang, 24 Mei 2016
Ketika kumbang begitu mudahnya
Jatuh cinta pada sekuntum kembang
Maka kumbang sepertiku
Bukanlah kumbang yang mudah tumbang
Karena sekuntum kembang
Kembangmu sederhana
Manisnya tersembunyi rapi
Bahkan kumbang lain
Yang tak tulus
Akan mengacuhkanmu
Karena belum tahu
Manis rasa madumu
-Malang, 24 Mei 2016
Bercukupan adalah pilihan, ketika menjadi tua
bersamaku, kau adalah orang yang cukup
untuk menemaniku, hingga salah satu di antara kita menjadi manusia yang ganjil
-Malang, 24 Mei 2016
Hai para ikhwan
Jika kau lihat
Aku ini akhwat, bukan?
Jawablah
-Malang 25 Mei 2016
Ibarat aku mendung
Aku hanyalah cuaca yang menyusahkanmu
Sudah terduga
Cerah adalah yang kau tunggu
Kau suka dengan sinar mentari
Walau kadang menyengatmu
Pikirku
Ketika kau tersengat berlebihan
Dengan mendung sepertiku
Kuharap kau terlindungi
Atau bahkan menyegarkan
Ketika gersang
Menyerangmu
Dengan tidak kepedulianmu
Sungguh, tak mengapa
-Malang, 25 Mei 2016
Kemelut tak bertepi
Kemelut dengan bayang rumit
Sekelumit cinta
Tak semanis kopi dalam cangkir
-Malang, 25 Mei 2016
Kalau kau kira
Kau kubenamkan
Seperti mentari pada waktu sore
Nampaknya kau masih salah
Aku tetap sama
Mengagumimu
Seperti tahun-tahun yang berlalu
Tahun yang setia pada bulan
Tahun yang setia pada hari
Menit bahkan detik
-Malang, 28 Mei 2016
Ku pikir jika berkeliling samudra
Agar kau enyah
Akan berujung pada sia-sia
Bagaimana bisa
Ketika aku menemukan puncaknya
Kau adalah pikiran terakhir
Di puncak dermaga
Yakin
Sejauh ini
Tetap padamu
-Malang, 28 Mei 2016
Boleh kubilang?
Menikahlah denganku
Hanya denganku
Nikahilah aku
Walau aku sedikit memaksa
Jadilah milikku
Walau dan banyak walau
Yang lainnya
Karena imanmu
Mana mungkin aku melepaskanmu
Biar aku saja seseorang yang beruntung itu
-Malang, 28 Mei 2016
Akan kulupa
Jika harus dilupa
Akan kusibakkan
Jika harus disibakkan
Ketika harapku buyar
Dan kau bukan jawaban
Takkan sukar
Untuk sekedar melepaskan
-Malang, 28 Mei 2016
Apapun itu
Aku tak ingin bercerita
Apapun itu
Aku tak ingin memberitahu
Apapun itu
Rasanya telah dimakan cemburu
Ketika ia hadir
Dia benar-benar akan membuatmu
Terpontang-panting
Bahkan berkeping-keping
Walaupun itu sebenarnya yang kau nanti
Bahkan kau cari
Akan ada waktu yang hadir
Ia adalah patah hati
-Malang, 02 Jul. 16
Patah hatilah kepada yang sudah jelas termiliki
Karena melepaskan akan lebih mudah
Meski terasa sakit di awalnya.
-Malang, 02 Jul. 16
Barangkali aku menuntutmu
Agar bekerja keras di siang hari
Barangkali aku memaksamu
Menepati materi yang kubutuhkan
Barangkali aku ingin ini, itu
Dan kau mau tak mau menurutinya
Sekedar memaksa
Dan lebih menuntut lagi
Berkali-kali lipat
Kau harus shalih
Tidak ada kata tidak
-Malang, 02 Jul. 16


Mantaaapp betull ihh puisinya, ukhteaaa. Semangaattt terooss yooo berkaryo.
BalasHapusTerima kasih ukhti cantiiiikkkk. Makasih ya supportnya. Terus kunjungin blognya
Hapus