Sekelumit, tapi Bikin Hati Sakit
Sekelumit,
tapi Bikin Hati Sakit
Kalian percaya nggak kalau
sebuah kata-kata bisa berefek pada emosi manusia? Kok bisa ya? Kalau Mimin baca
jurnal sih karena bahasa itu ungkapan atau alat komunikasi dari bermacam-macam
pengalaman manusia Gais . Perlu kita ketahui ya, bahwa bahasa adalah alat
komunikasi yang intensional. Apa lagi itu, ya dasar komunikasi manusia yang
bisa berpengaruh pada pola-pikir orang. Emosi itu ada dalam hati ya Gais,
sedangkan kata-kata itu biasanya keluar karena pengaruh emosi dan kognitif
kita. Duh ilmiah banget sih, Mimin pusing sebenarnya. Takut salah. Beberapa waktu
yang lalu, kita lagi gempar tentang body
shamming. Yang belum tau tuh apa, browsing bentaran dulu deh. Sederhananya
menurut Mimin, body shamming itu
pendapat individu mengenai fisik individu yang lain, tapi lebih cenderung
negatif. Kayak gini ‘lho kok hidungnya
nggak mancung?’ ‘lho sekarang kok gemukan, jerawatan’. Sebel ngga sih
dikatain kayak gitu. Aku sih sebel pol. Ya karena apa, itu ngaruh banget ke
psikis kita yang tadinya baik-baik aja ketika punya jerawat jadi insecure ngga percaya diri. Loh kan, iya
bener. Ngaruh ke kondisi psikologis kita. Ini masih sebatas bahasa lisan. Lalu gimana
yang bahasanya lewat tulisan. Kalimat gimana sih yang membuat kita ambyar,
terus bikin porak-poranda hati? Ini sih survei dari medsos ya. Terutama rakyat
instagram dan twitter. Eh twitter booming lagi. Kapan-kapan kita bahas lagi ya
kenapa twitter booming lagi, padahal kemarin kalah pamor dengan medsos yang
lain.
Balik lagi yuk! Coba kita
pahami, sebuah kalimat sederhana tapi bikin nyesek lawan bicaranya yang viral
kayak lagunya Kunto Aji Ya sudah.
- ‘Ya sudah’
Gais kalimat ini pendek. Tapi kalau
dilihat konteksnya lagi seperti kondisi seseorang yang udah nyerah akan
keadaanya. Sebenarnya pemaknaan tergantung dengan konteks. Dalam dunia
linguistik namanya psikolinguitik. Psikolinguistik itu gampangannya, apa yang
terjadi secara psikologis ketika orang-orang berbicara dengan kita baik lisan
atau verbal. Gitu, paham ya.
- ‘Terima kasih, ya untuk semuanya. Semoga berbahagia’
Siapa yang nggak langsung
porak-poranda ketika mendengar kalimat beginian? 6 kata bikin ambyar untuk
waktu yang lama. Sebuah kalimat bagaimana mengakhiri sebuah hubungan. Proses yang
terjadi secara psikologi ya sedih, kecewa, marah. Mimin ucapkan sabar ya buat
kalian yang nasibnya kayak begini. Haha :)
- ‘Kita sampai di sini, ya’
Kata ambyar lagi. Kalau konteksnya
di jalanan sedang berjalan-jalan, mungkin maknanya sampai pada tujuan tempat. Lah
kalau dua orang sedang bertengkar, jelas akhir dari hubungan. One more, KANDAS
wkwk. Efeknya pada jiwa ngga cuman sedih. Bisa berhari-hari sulit tidur
insomnia, bisa menurunkan nafsu makan. Wah! Kekuatan bahasa sangat luar biasa
ya pengaruhnya. Wah sepertinya pengalaman Mimin juga luar biasa ya.
Sereman mana kata-kata kandas
sama ini? Sama-sama nyeremin ini mah. Makna yang bisa kita tangkap ketika
seseorang berujar demikian adalah orang ini mau menghutang, entah ngembaliinya
kapan. Efek emosi atau pengaruh psikologis yang terjadi adalah rasa kesal kalo
udah berkali-kali bilang gitu, rasa mangkel, rasa tidak rela, bahkan rasa tidak
ikhlas. Ya iya dong, secara uang kita jadi berkurang. Tapi karena timbul emosi
rasa tidak enakan, sungkanan malah membuat kalian akhirnya memilih tindakan
meminjami. Yang suka ngutang sadar diri, yang ngehutangi semoga kalian hatinya
selalu lapang :(
- ‘Gapapa’
Senjata pamungkasnya siapa ini?
Jangan bilang senjatanya cewek. Nonono, cowok juga bisa kok. Makna ‘gapapa’ ini
sangat luas Gais. Maknanya tidak terjadi apa-apa, akan tetapi lebih seringnya lekat
dengan kondisi orang itu secara psikis kecewa berat, marah sekali, ingin
menangis, putus asa, dan sedih sekali. Maknanya ingin terlihat baik-baik saja
tapi apa daya berduka nyatanya.
![]() |
| imagebywhatsapp |
Jadi pada intinya, kalimat
tersebut ada pengaruh ada makna tersebunyi. Proses psikologi yang terjadi
ketika seseorang mengatakan, berucap demikian maka ada maksud lain sesuai
dengan kondisi hati. Para ahli mengatakan bahwa bahasa mempengaruhi pikiran,
dan sebaliknya pikiraan mempenaruhi bahasa. Jadi, kesimpulannya Gais, mereka
menulis, berujar kata-kata memberi pengertian
bahwa mereka memiliki emosi yang berbeda-beda. Bahasa emosi masih sangat
terbatas, sedih, marah, senang ini masih sering dijumpai, karena keterbatasan
inilah, makanya muncul kata-kata seperti di atas.
Sekian, yuk ngopi dulu!
Lila A




Iso baper tibak e bu guru iki 😂
BalasHapusTerima kasih sudah berkunjung pengunjung setiaku wkwk 😂
Hapus